Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Jumat, 27 Juli 2012

Pastor : Menjalani Hidup Karena Terpilih Oleh Allah

Salah satu yang menjadi ciri khas Gereja Katolik adalah pemimpin umatnya, Pastor. Pastor, Imam, Romo, Uskup, bahkan Sri Paus adalah kata-kata yang sering kita dengar dan kadang kita lihat diacara keagamaan TV.  Orang-orang yang non-katolik pasti belum mengerti sepenuhnya apa sih arti kata-kata tersebut selain yang mereka ketahui adalah seorang pemimpin umat Katolik yang tidak menikah. Nah, untuk memahami lebih jelas kata-kata Pastor, Imam, Romo, Uskup, dan Sri Paus juga kata-kata lainnya yang berhubungan dengan hierarki Gereja Katolik, saya telah mengambil beberapa isi artikel yang bisa membantu anda memahami lebih jelas. Silakan disimak ^^.
“Aku menasihatkan para penatua di antara kamu, aku sebagai teman penatua dan saksi penderitaan Kristus, yang juga akan mendapat bagian dalam kemuliaan yang akan dinyatakan kelak. Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela  sesuai dengan kehendak Allah, dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri. Janganlah kamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu. Apabila Gembala Agung datang, maka kamu akan menerima mahkota kemuliaan yang tidak dapat layu” (1Ptr 5:1-4)

Dalam petikan tersebut, Petrus memberi nasihat-nasihat kepada para penatua (dan tentu siapa saja yang bekerja melayani umat) dan memimpin mereka lewat teladan hidupnya sendiri. Demikian halnya dengan para pengganti Petrus. Mereka dipanggil untuk menjaga kawanan domba dan menjadi peniru-peniru yang rendah hati dari Kristus. Seturut dengan teladan sang Guru Agung, setiap pemimpin dan pemuka umat lainnya, dalam memimpin umat seharusnya menjadi seorang servant-leader dan menjadi seorang pemimpin yang menerapkan leadership by example.
Dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, Pemimpin umat akrab dengan panggilan gembala. Tuhan Yesus sendiri mengetengahkan kepemimpinan gembala. Bahkan Ia menjadi Gembala yang baik, sumber bagi para gembala Jemaat meneladani-Nya. Gembala itu akrab dengan dombanya. Tugas gembala adalah memberi makan dan minum kepada domba-dombanya. Menggembalakan juga berarti menjaga kawanan domba Anda agar tidak berkeliaran, membuat batasan-batasan yang jelas dan menarik mereka kembali ketika mereka mulai berkeliaran. Menjadi seorang gembala juga berarti melindungi kawanan domba Anda dari serangan musuh. Merupakan tugas seorang pemimpin Kristiani untuk membuka mata dan menjaga celah yang mana Iblis dapat masuk dan juga melindungi kawanan domba dari incaran singa.
Sebelumnya, kita harus mengetahui dulu bagaimana sih seseorang bisa menjadi Pastor, Uskup atau Paus. Dalam Gereja Katolik ada 7 Sakramen. Sakramen artinya tanda penyelamatan Allah. 7 Sakramen itu adalah Baptis, Tobat, Ekaristi, Karisma, Imamat, Perkawinan, dan Pengurapan Orang Sakit. Para pemimpin Gereja Katolik mengambil Sakramen Imamat. Jika seseorang telah mengambil Sakramen Imamat maka tidak diperkenankan mengambil Sakramen Perkawinan. Kita akan bahas apa sih Sakramen Imamat itu.
1. Apa Sakramen Imamat itu?
Sakramen Imamat sering disebut dengan Sakramen Tahbisan atau Sakramen Wisuda. Dengan Tahbisan, seseorang menjadi Pemimpin dalam Gereja. Dulu pernah salah dipahami bahwa Sakramen Imamat atau Tahbisan ini hanya untuk Pemimpin Ekaristi yang memberi absolusi dalam Sakramen Tobat saja. Dengan Sakramen Imamat seseorang diangkat atau diwisuda untuk menggembalakan Gereja dengan Sabda & Roh Allah.
Ada 3 macam Sakramen Tahbisan:
1.         Tahbisan Uskup
2.         Tahbisan Imam
3.         Tahbisan Diakon
2. Apakah Tujuan Imamat?
Tuhan menghendaki agar segenap umat manusia diselamatkan, tetapi tidak dengan cara yang sama. Sama seperti di surga Tuhan membedakan tingkatan-tingkatan kemuliaan yang berbeda, demikian pula di bumi Ia telah menetapkan status hidup yang berbeda pula, begitu banyak cara yang berbeda menuju surga. Berdasarkan tujuan agung dengan mana imamat ditetapkan, maka dari semuanya, imamat adalah yang paling mulia, yang paling unggul serta paling luhur.
Tujuan dengan mana Tuhan telah menetapkan imamat adalah untuk menunjuk di bumi orang-orang yang akan memelihara kehormatan kemuliaan Ilahi-Nya, dan memperolehkan keselamatan bagi jiwa-jiwa. Karena setiap imam besar, kata Rasul Paulus, diambil dari antara orang banyak, ditahbiskan bagi manusia dalam hal-hal yang berhubungan dengan Tuhan, agar ia dapat menyampaikan persembahan dan kurban bagi dosa, orang yang menaruh belas kasih kepada mereka yang berdosa.
Yesus Kristus telah menjadikan para Imam, seolah, rekan kerja-Nya dalam mendapatkan kemuliaan bagi Bapa-Nya yang kekal dan keselamatan bagi jiwa-jiwa, sebab itu, ketika Ia naik ke surga, Ia memaklumkan bahwa Ia meninggalkan mereka untuk menempati tempat-Nya, dan melanjutkan karya penebusan yang telah Ia laksanakan dan Ia genapi. Dan Yesus Kristus Sendiri mengatakan kepada para murid-Nya, “Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.” Aku meninggalkanmu untuk melaksanakan tugas utama yang untuknya Aku telah datang ke dalam dunia, yaitu mewartakan nama Bapa-Ku kepada segenap manusia.
Dan kepada Bapa-Nya yang kekal, Ia mengatakan, “Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya. Aku telah menyatakan nama-Mu kepada semua orang.” Kemudian Ia berdoa bagi para Imam-Nya, “Aku telah memberikan firman-Mu kepada mereka. Kuduskanlah mereka dalam kebenaran. Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia.”
Dengan demikian, para imam ditempatkan dalam dunia untuk mewartakan kepada manusia tentang Tuhan dan kesempurnaan-Nya, keadilan dan belas kasihan-Nya, perintah-perintah-Nya, dan memperolehkan penghormatan, ketaatan dan kasih yang layak Tuhan dapatkan. Mereka ditunjuk untuk mencari domba-domba yang hilang, dan bila perlu, mengurbankan nyawa demi domba-domba. Inilah tujuan yang untuknya Yesus Kristus telah datang ke dunia, Ia telah menetapkan para Imam. “Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu”.
3. Apa saja tugas-tugas utama seorang Pastor atau Imam itu?
Dalam Kitab Imamat, Tuhan mengatakan kepada para imam-Nya: “Aku telah memisahkan kamu dari orang-orang lain, supaya kamu menjadi milik-Ku. Camkanlah kata-kata `supaya kamu menjadi milik-Ku'; supaya kamu bekerja demi kemuliaan-Ku, mengabdikan diri demi pelayanan kepada-Ku, dan demi kasih kepada-Ku.”. Yesus Kristus menganugerahkan kepada mereka Roh Kudus, agar mereka dapat menyelamatkan jiwa-jiwa dengan menghapus dosa-dosa mereka. Tanggung jawab setiap Imam atau Pastor adalah untuk melaksanakan hal-hal surgawi bukan hal-hal duniawi. Ia ditahbiskan demi hal-hal yang berhubungan dengan Tuhan.
Imamat umum ialah imamat yang dianugerahkan kepada setiap umat beriman berkat pembaptisan, penguatan dan Ekaristi. Imamat jabatan ialah rahmat yang diterima oleh umat beriman berkat tahbisan suci, saat dimana umat Allah itu disucikan atau dikuduskan untuk menjadi memimpin, menguduskan dan menggembalakan umat Allah dalam Gereja. Dengan kuasa tahbisannya, para imam menjadikan orang sebagai anggota Gereja melalui sakramen baptis, mendamaikan para pendosa dengan Allah dan Gereja melalui sakramen tobat, meringankan para penderita penyakit melalui sakramen pengurapan orang sakit, menguduskan pernikahan seorang pria dan wanita melalui sakramen perkawinan dan puncak dari semua pelayanan sakramen ialah Ekaristi di mana para imam mempersembahkan korban Kristus secara sakramental dan menghadirkan Kristus secara nyata dalam rupa roti dan anggur. Hanya para imam yang menghadirkan Kristus dalam tindakan pelayanan mereka.
4. Apa saja syarat-syarat untuk menerima Sakramen Imamat?
Syarat-syarat menjadi seorang Imam adalah :
o   Semua orang pria atau laki-laki yang tidak terikat pernikahan, yang beragama atau beriman Katolik
o   Pria yang sudah menerima inisiasi (sakramen baptis, krisma, dan ekaristi)
o   Bersedia hidup selibat (tidak menikah seumur hidup)
o   Telah menyelesaikan pendidikan khusus (filsafat, Theologi, Moral, Hukum gereja di Seminari Tinggi)
o   Sehat jasmani dan rohani
o   Mempunyai hidup rohani yang baik  dan dewasa dalam kepribadian juga iman
o   Mempunyai cita-cita atau motivasi yang kuat menjadi seorang Imam

5. Bagaimana jika ingin menjadi seorang Pastor, apa yang harus dilakukan dan berapa lama untuk menjadi seorang Pastor?
Mulai dari proses pendaftaran sampai masuk Seminari atau tahapan menjadi seorang Frater. Frater artinya kakak atau saudara tua = calon Imam / Pastor. Lama belajar yang harus ditempuh adalah antara 7-8 thn, berikut tahapan-tahapannya :
o   Tahap Postulat: 1 thn
o   Tahap Novis: 1 thn
o   Tahap Filosofan (studi Filsafat): 3 thn
o   Tahap Toper (praktek pastoral di Paroki): 1-2 thn
o   Tahap Teologan (studi Teologi): 2 thn
o   Tahap Diakonat: kurang lebih 6 bulan di Paroki lagi (Diakon sudah termasuk Klerus, artinya bukan awam, karena sudah ditahbiskan sebagai Diakon)
Mulai tahap Novislat sampai Skolastikat disebut Frater. Mulai tingkat 5 diperbolehkan mengucapkan kaul kekal. Sebelumnya hanya kaul sementara (1 thn, 2 thn – 3 thn). Setelah kaul kekal lalu mendapatkan tahbisan Diakon, lalu Pastoral di Paroki 6 bulan disusul Tahbisan. Imam atau awam mengikrarkan ketiga nasihat Injil sebagai kaul kekal yang publik serta meriah (atau agung) & hidup dalam persaudaraan. Tujuannya membuktikan diri kepada TuhanPara Imam/Biarawan/Biarawati mengucapkan 3 kaul :
1.         Kaul Ketaatan
Dalam spritiualitas imamat, ketaatan tidak merendahkan dan menekan kebebasan seorang imam tetapi mengangkat keluhuran martabatnya. Dengan ketaatan seorang imam menjadi bebas dari keserakahan dan ingat diri. Dari keteladanan hidup Yesus Kristus seorang imam dapat menaati Allah dan sesama apabila ia menjadi orang yang benar-benar bebas.
2.         Kaul Kemiskinan
Bagi seorang imam, nasihat injili kemiskinan berarti hidup miskin dalam kenyataan dan dalam semangat yang harus dihayati tanpa kenal lelah dalam kesederhanaan dan jauh dari kekayaan duniawi. Miskin dalam kenyataan berarti barang-barang sejauh berguna dan dibutuhkan untuk mencukupi kehidupan manusia. Artinya tidak terikat pada barang yang dipunyai. Secara spritiual, kemiskinan berarti kesadaran manusia untuk merasa dirinya kurang dihadapan Tuhan dan sesama.
3.         Kaul Kemurnian
Secara tradisional, selibat diartikan sebagai status tidak kawin atau suatu pertarakan yang tetap dari perkawinan karena alasan-alasan religius. Arti selibat ini oleh Konsili Vatikan II, dalam dekrit tentang Pelayanan dan Kehidupan Para Imam, menegaskan selibat sebagai pantang sempurna dan seumur hidup demi Kerajaan Sorga sesuai anjuran Kristus Tuhan (Bdk. Mat 19:12). Konsili Suci juga menyadari bahwa selibat tidak dituntut oleh imamat berdasarkan hakekatnya, tetapi selibat mempunyai kesesuaian dengan imamat.
Selibat sebagai hadiah dari Allah selalu merupakan tawaran. Tawaran selalu mengandaikan penghargaan terhadap kehendak. Maka kehidupan selibat merupakan tawaran yang diberikan Tuhan bagi manusia untuk memilih secara bebas (bdk.Mat 19:12). Sebab itu, imam yang menerima hadiah selibat mesti mau dan rela. Rela berarti bebas tanpa paksa. Seorang imam dalam menghayati selibatnya haruslah menjadi orang yang bebas; bebas dari kehendak sendiri, bebas dari prasangka, bebas dari suasana terkunci dalam melaksanakan apa yang diterima. Pendeknya imam mesti bebas baik secara intern maupun ekstern dalam menerima dan menghayati hadiah selibat.
Dalam melaksanakan kebebasannya untuk kehidupan selibat, seorang imam memutuskan bagi dirinya dan membentuk dirinya. Dalam arti ini ia merupakan penyebab bagi dirinya sendiri dalam pilihan hidup selibat. Dengan demikian perasaan terpaksa atau tertekan yang dialami oleh seorang imam dalam kehidupan selibat sebenarnya tidak disebabkan oleh selibat itu sendiri, tetapi oleh diri imam sendiri yang dikuasai oleh “hukum daging atau keserakahan yang mendorong manusia ke kejahatan dan membuatnya tidak berdaya untuk memilih apa yang baik” (bdk. Rom. 7:19).
6. Apa saja yang dilakukan oleh seorang Pastor sehari-harinya?
Seorang Pastor tugasnya adalah memimpin atau menggembalakan Jemaat di Paroki, melayani Sakramen (7 Sakramen), melayani doa pribadi, Ada yang menjadi dosen atau ketua yayasan dan melayani di bidang sosial.

7. Apa itu bruder dan suster?
Dalam gereja Katolik ada dua strata (tingkatan). Tingkatan pemimpin dan umat. Yang di tingkat pemimpin adalah Paus, Kardinal, Uskup, Imam (romo = bapak, father), dan diakon. Sedangkan yang di tingkat umat adalah Suster, Bruder, Frater, Postulan, Novis, dan umat biasa. Bruder berasal dari bahasa Belanda, “brother” itu sama dengan Suster (bahasa Belanda, sister). Mereka ada di tingkat umat, tetapi punya cara hidup yang khusus: yakni mengucapkan tiga kaul (melarat, taat dan wadat, atau selibat atau tidak kawin), hidup secara khusus dan berpakaian khusus. Kekhususan hidup Bruder dan Suster adalah ”ora et labora” (berdoa dan bekerja). Mereka banyak berdoa untuk umat beriman yang ”bertempur” di ”medan juang” masyarakat. Hidup khusus mereka melayani masyarakat misalnya: kesehatan, pendidikan, orang miskin, dan sebagainya. Frater (bahasa Latin, brother) adalah sebutan calon Imam yang mengikuti pendidikan 7 (tujuh) tahun sebelum tahbisan imam.
Untuk jadi Bruder dan Suster, ada 3 (tiga) tahap pendidikan :
(a) Aspiran yakni tahap pengenalan, ketika calon menginap di rumah Bruder atau Suster selama seminggu, sebulan, atau lebih.
(b) Postulat yakni tahap pendidikan awal (1 tahun).
(c) Novisiat yakni tahap pendidikan lanjut (2 tahun) serta persiapan kaul menjadi Bruder atau Suster. Setelah lulus Novisiat, calon diterima menjadi Bruder atau Suster dengan mengucapkan tiga kaul. 
8. Mengapa mereka mau menjadi suster, bruder, atau imam? Mengapa mereka mau dan memilih hidup seperti itu?
Menjadi seorang religius atau imam memang hal yang aneh, sehingga hanya sedikit pemuda-pemudi Katolik yang mau dan memilih menjadi seorang suster, bruder, ataupun imam. Banyak orang muda Katolik barangkali sulit memahami bagaimana seseorang mau hidup tidak menikah. Bisa jadi orang-orang yang memilih jalan hidup seperti itu digolongkan dalam kelompok yang sangat suciatau yang sangat gila, sehingga dapat dimengerti bahwa hanya sedikit yang memilih untuk hidup semacam ini. Sebagai jawabannya setiap suster, bruder atau imam tentu mempunyai cerita panggilan yang berbeda-beda. Cerita panggilan seseorang itu bisa sungguh unik, mungkin sungguh sepele dan tidak istimewa, tetapi justru dapat menjadi berharga dan menarik untuk dibagikan pada orang lain.
Pemenuhan Sakramen Imamat merupakan puncak kerinduan seorang Calon Imam. Tapi menjadi imam adalah panggilan Tuhan (banyak yang dipanggil, sedikit yang dipilih). Seseorang harus selalu membukakan hati bagi panggilan Tuhan, bersedia meninggalkan kepentingan-kepentingan pribadi untuk bisa mengabdi dan melayani Tuhan, Gereja dan umat-Nya. Yesus memanggil para murid-Nya juga secara personal. Di tengah himpitan kebingungan dunia, Gereja memerlukan orang-orang yang mampu melihat dan menempatkan Allah sebagai “YANG PALING BERARTI”. Gereja memerlukan orang-orang yang mempunyai keingingan yang berkobar-kobar untuk mejadi pelayan bagi sesamanya. Tak seorang pun terlahir menjadi suster, bruder atau imam. Panggilan pertama-tama merupakan inspirasi Allah. Manusia perlu menciptakan iklim yang bisa menyuburkan panggilan itu.
“Berkatalah Petrus kepada Yesus: “Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau!” Jawab Yesus: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang karena Aku dan karena Injil meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, ibunya atau bapanya, anak-anaknya atau ladangnya, orang itu sekarang pada masa ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat: rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak dan ladang, sekalipun disertai berbagai penganiayaan, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal. Tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu.” (Mrk 10:28-31).
Seorang gembala akan selalu memimpin kawanan dombanya untuk apa yang menjadi kebutuhan mereka. Merupakan tugas seorang Imam untuk dengan lembut mengarahkan umat kepada apa yang menjadi kebutuhan mereka secara emosional, rohani, fisik, mental dan mengetahui kapan mereka harus diberikan semangat, dibenarkan ketika mereka salah, dan dikasihi. Menjadi seorang pemimpin Kristiani adalah untuk memenuhi kebutuhan umat-Nya, tidak memanfaatkan mereka untuk memenuhi kebutuhan pribadi. "Maka kamu, apabila Gembala Agung datang, kamu akan menerima mahkota kemuliaan yang tidak dapat layu. " (1 Pet 5:4).
Ada upah yang dijanjikan bagi mereka yang melayani Dia dengan penuh pengabdian serta setia kepada-Nya. Para Pelayan pun diminta untuk menjaga kesatuan dan keutuhan Jemaat, supaya jangan terancam keretakkan apalagi perpecahan. Mereka wajib menjaga keharmonisan dan keserasian dalam persekutuan Jemaat. Punya semangat pengabdian tanpa pamrih dan tidak mencari kepentingan diri sendiri. Melayani dengan sukarela, sebagaimana yang Tuhan kehendaki, sehingga jangan merasa terpaksa atau dipaksa baru mau melayani. Gembalakanlah kawanan domba Allah dengan tulus hati dan penuh dedikasi. Lakukanlah bagi kemuliaan Tuhan.    

0 komentar:

Poskan Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
"Merekapun pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya."